Wonodadi Wetan, Februari 2026. Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa memiliki beragam tradisi yang sarat makna. Salah satunya adalah geren kubur, yaitu kegiatan bersih-bersih makam yang dilakukan secara turun-temurun. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas membersihkan area pemakaman, tetapi juga menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga.
Seperti yang dilakukan oleh warga Ngobal, Desa Wonodadi Wetan, tradisi geren kubur masih dijaga dan dilestarikan hingga kini. Beberapa hari sebelum Ramadhan, warga dari berbagai kalangan, baik tua maupun muda, berbondong-bondong menuju makam untuk membersihkan lingkungan sekitar. Mereka membersihkan rumput liar, menyapu daun kering, memperbaiki makam yang rusak, serta merapikan jalan setapak di area pemakaman. Selain di Dusun Ngobal, kegiatan ini juga berlangsung di Dusun lainnya.
Kegiatan ini biasanya dilakukan secara gotong royong. Tanpa memandang latar belakang, seluruh warga bekerja bersama dengan penuh keikhlasan. Selain membersihkan makam keluarga masing-masing, warga juga membersihkan makam lain yang mungkin sudah lama tidak terurus. Hal ini mencerminkan nilai kepedulian sosial dan rasa persaudaraan yang kuat di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar bersih-bersih, geren kubur juga menjadi momen refleksi diri. Mengingat kematian diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran spiritual dan mempersiapkan hati untuk menyambut Ramadhan dengan jiwa yang lebih bersih. Setelah kegiatan selesai, warga biasanya memanjatkan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada arwah para leluhur.
Tradisi geren kubur di Ngobal, Desa Wonodadi Wetan, menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Melalui tradisi ini, nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap leluhur terus diwariskan kepada generasi muda, sehingga tetap lestari dan tidak tergerus oleh modernisasi.
Berita Terkait



